RSS

BERJUANG DI BAWAH KEKUASAAN TIRANI

02 Mar

Berada di bawah kekuasaan yang berdasarkan azas tirani sangat tidak mengenakkan sekali untuk dijalani. Banyak hal yang terbuang karena tirani tersebut dan yang paling terbuang adalah kecermerlangan ide yang dimiliki oleh orang – orang yang berada di bawah  kekuasaan tirani. Ide – ide tersebut layak untuk dimunculkan dalam bentuk implementasi baik dari bentuk teori  maupun prakteknya. Karena dengan adanya ide – ide cemerlang maka jangan heran akan muncul kilau mutiara nantinya. Namun hal inilah yang tidak terjadi dalam tatanan masayarakat yang berada di bawah wilayah kelurahan Pagutan Kota Mataram. Kehidupan di sana sangat kental sekali dengan kehidupan feodal dan tirani. Tirani dalam arti bahwa kehidupan berorganisasi sangat dikekang sekali keberadaannya, karena masih menyangkut dengan hal – hal yang berbau modern yang dipikirnya oleh para tetua sebagai organisasi yang nantinya akan membawa perubahan ke  hal – hal yang negatif. Padahal, berorganisasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan keberadaan peran pemuda dalam kehidupan bermasyarakat. Karena saat ini, dari dahulu peran pemuda di lingkungan tersebut sangat minim sekali yang disebabkan oleh ketidakpercayaan dari para tokoh tua dan tokoh masyarakat akan kemampuan pemuda dalam menjalankan organisasi masyarakat padahal nantinya para pemuda tersebut yang menggantikan peran mereka di masyarakat.

Telah lama muncul ide untuk melakukan perubahan, merubah pemikiran yang mengecap pemuda sebagai biang kerok keonaran di dalam kampung yaitu dengan membentuk suatu wadah yang bisa menyalurkan semua aspirasi dari pemuda tersebut agar ide mereka bisa muncul dan bisa diterapkan. Jika dilihat dari segi pendidikan, banyak diantara mereka telah mengenyam pendidikan tinggi di perguruan tinggi negeri dan swasta yang cukup terkenal di kota Mataram, tidak kalah pula dengan siswa SMA/SMP mereka sekolah di sekolah dengan citra tinggi. Namun kenapa ide itu sulit muncul? Jawabannya ada pada ketidakberanian pemuda untuk menyampaikan pendapat mereka, karena setiap mereka menyampaikan pendapat maka mereka dicap telah melawan orang tua dan itu hukumnya durhaka dalam agama. Tentu saja mereka menjadi ciut nyalinya untuk mengobarkan ide mereka lagi.

Maka dengan semangat perubahan demi menuju masayarakat kampung berjiwa islami dan berwawasan luas, para pemuda memulai sebuah pertemuan kecil yang dimulai dengan kegiatan acara perayaan menyambut Maulid Nabi Muhammad saw pemuda berlomba – lomba untuk mengambil bagian demi terlaksananya acara tersebut. Namun, ini bukan hanya moment saja untuk sekedar menyambut maulid tapi sebagai pijakan awal untuk melakukan perubahan dengan memberikan metode dan wadah baru dalam melaksanakan maulid. Semua orang tua tidak diikutkan dalam pembentuka n kepantiaan kecuali kepala lingkungan dan ketua remaja masjid.  Para orang tua hanya diposisikan sebagai penerima undangan dan duduk manis melihat kinerja para pemuda dan hebatnya semua rata – rata usia pemuda tersebut di bawah 25 tahun dengan koordinasi dari senior yang telah lama menginginkan perubahan demi munculnya generasi kampung yang berjiwa islami dan semangat kebersamaan.

By: Amirudin Kalbuadi

 
Leave a comment

Posted by on 2 March 2011 in Sekedar tulisan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: