RSS

Siapakah Teroris Sebenarnya?

28 Jul

Sebelumnya, saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya kepada yang merasa tersinggung atas apa yang saya tuliskan di dalam blog saya ini. Karena ini berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan dan tidak bisa dipungkiri lagi. Di samping itu pula hak untuk menyuarakan pendapat sebagai bahan evaluasi kita bersama dalam menyelesaikan permasalah yang selalu melanda bangsa ini.

Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat belakangan ini khususnya tentang banyaknya tabung gas elpiji ukuran 3 Kg meledak di masyarakat menjadi pembicaraan yang hangat di berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat paling bawah hingga pemerintah. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan sendiri bagi saya pribadi (walaupun tidak terlalu mengerti dengan kebijakan ini) apa yang dipikirkan oleh para pembuat kebijakan di negeri ini menggunakan gas elpiji namun selalu yang mengalami dampaknya adalah masyarakat. Program pemerintah tentang konversi minyak tanah ke gas elpiji beberapa waktu lalu saya anggap sebagai suatu langkah yang bagus untuk menggunakan energi alternatif yang  bisa menghemat energi. Namun, konversi tersebut seperti terburu-buru dan minim sosialisasi.

Minimnya sosialisasi ini bisa dilihat dari dampak yang ditimbulkan di masyarakat. Mereka belum tahu secara paham bagaimana cara menggunakan tabung gas tersebut yang dikarenakan mereka telah terbiasa menggunakan minyak tanah atau kayu bakar.

Beberapa bulan terakhir, di media (baik cetak maupun elektronik) banyak dimuat tentang ledakan tabung gas elpiji (khususnya 3 Kg) terjadi di masyarakat. Dampak tersebut tidak tanggung-tanggung lagi, menyebabkan tempat tinggal menjadi tidak ada lagi bahkan yang paling hangat dibicarakan lagi korban ledakan tersebut adalah Ridho (seorang bocah) yang mengalami luka bakar di wajahnya. Si bocah tersebut harus mengalami operasi plastik. Ibu korban rela berjalan kaki dari tempat tinggalnya ke Jakarta untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah.

Namun, entah apa yang dipikirkan oleh para pembuat kebijakan ini. Semakin banyak terjadi ledakan semakin gencar pula sosialisasi (baik iklan maupun langsung) untuk menggunakan elpiji. Bahkan ada isu yang ada di masyarakat kalau minyak tanah sengaja dilangkakan agar masyarakat mau berpindah ke elpiji (isu tersebut saya dapat dari para ibu-ibu yang membeli minyak tanah saat saya kebetulan lewat di sebuah agen minyak tanah).

Melihat ledakan yang sering terjadi, masyarakat secara tidak langsung mencari trauma untuk menggunakan tabung gas elpiji. Namun sperti yang saya bilang tadi, makin gencar pula ajakan untuk menggunakan gas elpiji. Di sebuah televisi swasta nasional diberitakan bahwa segala macam komponen harus berlogo SNI yang menjamin produk tersebut aman digunakan. Namun, bagi sebagian masyarakat hal tersebut sangat terlambat sekali diberitahukan kepada masyarakat.

Sekarang siapakah yang menjadi teroris sebenarnya? Kita tinggal merenungkan apa yang benar-benar terjadi di masyarakat untuk mengambil kesimpulan.

 
Leave a comment

Posted by on 28 July 2010 in Sekedar tulisan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: