RSS

Gerabah, Lombok Handicraft

12 Jun
Adalah Dewi Anjani yang pertama mengajarkan cara membuat gerabah kepada masyarakat Lombok. Alkisah, Lombok dihuni sepasang manusia Inaq Beleq dan Amaq Beleq. Keduanya adalah penghuni pertama Pulau Lombok yang sedang kebingungan menanak beras dari panen pertama. Dalam bingung, mereka bersimpuh dalam seribu tabik, dan mulai berdoa., Dewi Anjani mendengar doanya. Sejurus kemudian ia mengutus Manuk Bre untuk mengajari mereka mengolah tanah gunung menjadi pemangkaq (periuk) agar mereka dapat hidup dan menikmati hasil panen. Dari sinilah tradisi gerabah lahir.
Maka, tak mengherankan jika hampir seluruh perabot gerabah Lombok awalnya tercipta untuk keperluan ritual agama. Hal ini dapat ditelusuri dari sejumlah temuan arkeologis di Lombok. Salah satunya dari situs Gunung Piring, Lombok Tengah. Pada 1976, dari sebuah ekskavasi, ditemukan sejumlah peralatan prosesi pemakaman yang diperkirakan berasal dari abad ke-6 Masehi. Alat itu di antaranya sebuah kendi dan wadah gerabah yang diletakkan sebagai barang bawaan si mati. Mereka percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Kendi dan wadah gerabah itu untuk menemani si mati agar tidak kehausan dan kelaparan saat menuju dunia kekal.
Hingga kini, perabot gerabah masih menjadi pilihan buat kegiatan keagamaan atau upacara tradisional. Misalnya dalam upacara Gawe Mata Aiq, upacara memulai musim tanam padi. Di Lombok Timur, upacara ini didahului dengan membawa sejumlah makanan dan minuman dalam berbagai wadah gerabah, seperti pendaig (wadah air) dan kendi. Menurut tradisi suku Sasak, pembuatan gerabah juga memiliki musim dan waktu khusus. Misalnya pembuatan kemberasan (tempat penyimpan beras) harus dilakukan pada bulan Maulid atau bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pembuatan kemberasan juga harus dilakukan oleh wanita hamil. Sebelum memulai pekerjaannya, si pembuat harus terlebih dahulu menyiapkan persyaratan seperti segenggam gabah, secarik kain tenun, koin Cina kuno, dan sirih yang semuanya dimasukkan dalam keranjang. Semuanya dimaksudkan agar kemberasan yang dibuat dapat memberikan kesejahteraan bagi si pengguna. Ornamen dekoratif yang menghias kemberasan juga memiliki arti khusus. Misalnya simbol bulatan kecil, bulan sabit, atau anak tangga yang diukir mengelilingi wadah. Bulatan kecil melambangkan wanita hamil, hiasan tangga kerap dihubungkan dengan jalan menuju lumbung padi. Hingga kini, dekorasi pada sejumlah gerabah Lombok masih memiliki arti religius. Gerabah di Lombok juga kerap mempunyai kekuatan magis penolak bala. Salah satu yang paling popular adalah lampu wayang atau dila wayang berbentuk bulat dengan tempat minyak berada di tengah yang dipercaya dapat dipakai menolak segala bentuk kejahatan jika dinyalakan di depan rumah. Bagi masyarakat Lombok, pergelaran cerita wayang Sasak atau lebih dikenal sebagai wayang menak adalah kegiatan sakral. Biasanya pergelarannya dilakukan berhubungan dengan acara adat desa. Cerita wayang itu menyerap dari sejumlah kisah seputar penyebaran agama Islam, di samping kehidupan agung Nabi Muhammad SAW.
Cerita wayang menak terdiri dari 100 kisah yang ditulis di daun lontar dan diturunkan oleh keluarga dalang lewat tradisi lisan. Hingga kini banyak lampu wayang jenis ini yang dibuat massal untuk aksesori. Dari tradisi ritual inilah kemudian lahir berbagai perabot rumah tangga yang merupakan perkembangan bentuk dari sejumlah bejana ritual. Menurut Jean McKinnon dalam bukunya Vessels of Life, Lombok Red Spot Plate Earthenware (1996), ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kemampuan masyarakat Lombok mengadopsi bejana ritual untuk keperluan keseharian membuat tradisi ini terus eksis. Dari sinilah kemudian lahir puluhan jenis bejana yang kini masih dijumpai di dapur masyarakat suku Sasak. Sebut saja, misalnya, jangkih (kompor tanah liat), gubung (wadah untuk menyimpan nira), serta pepelesan (tempat kue).
Soal asal-muasal tradisi pembuatan gerabah di Lombok, banyak mengaitkan dengan tradisi pembuatan gerabah di pulau Jawa.. Selain tergambar dari sejumlah panel relief di candi Borobudur, sejarah juga mencatat pada abad ke-5 hingga ke-6 terjadi gelombang migrasi dari Jawa ke Bali dan terus ke Lombok. Hal ini disebabkan runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga.
Dari penelitian Rulof Goris, dikatakan bahwa alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran dari dan ke Lombok disebut “sak-sak” (rakit bambu). Kemungkinan nama Sasak suku tradisional di Lombok berasal dari kata sak-sak. Hubungan antara Jawa, Bali, dan Lombok semakin kuat dengan ditemukannya sebuah nekara (tong, perunggu) berangka tahun 1077 Masehi di Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Nekara itu bertuliskan huruf kuadrat berbunyi “Sasak Dana Prihan Srih Jaya Nira“, yang artinya bahwa benda ini adalah pemberian dari orang-orang Sasak. Selanjutnya sejarah mencatat, sekitar abad ke-14, Kerajaan Majapahit di bawah rajanya, Hayam Wuruk, sempat singgah di Lombok, sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama. Adanya pertunjukan wayang lelendong (wayang kulit) dan wayang wong (orang), perangkat gamelan berupa gendang, kemong, gong di Lombok-seperti dikenal di Jawa dan Bali membuktikan hubungan erat tiga pulau tersebut. Tak pelak, tradisi gerabah turut tersebar lewat persentuhan budaya tersebut.
 
Leave a comment

Posted by on 12 June 2010 in VLS 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: