RSS

Buat Tugas Emon

09 Jun
I.PENDAHULUAN

Krisis ekonomi-politik yang sudah berlangsung satu tahun di Indonesia menimbulkan pertanyaan bagaimana masa depan negeri ini ? Apakah masih tersisa harapan untuk kemakmuran bagi rakyat Indonesia di tengah krisis yang parah ini ? Kemudian apakah sesungguhnya yang harus dilakukan rakyat Indonesia agar keuar dari krisis sekarang ?

Berbagai jawaban dicoba diajukan. Mulai dari resep ekonomi yang mengikuti petunjuk Dana Moneter Internasional (IMF), pemilu multipartai tahun depan sampai dengan pengadilan para koruptor negeri ini. Berbagai langkah reformasi dibuat untuk melahirkan sebuah Indonesia baru yang bisa hidup lebih lama, lebih stabil dan lebih makmur.

Untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran terhadap masa depan Indonesia ini, makalah ini mulai akan menjawab pertanyaan, apakah yang membuat sebuah negara itu kuat dan lemah ? Mengapa pula sebuah negara lebih unggul dari negara satu dan negara lainnya ? Baru kemudian kita menjawab pertanyaan apa visi baru tentang masa depan Indonesia .

II. KEKUATAN NASIONAL
Hans J Morgentahu dalam Politics Among Nations: The Struggle for Power and
Peace menyebutkan secara jelas unsur-unsur kekuatan
nasional sebuah negara.
Sedikitnya ada sembilan karakter yang menentukan kuat dan lemahnya sebuah negara.

Pertama, Geografi. Posisi geografi sebuah negara bisa menguntungkan dan bisa pula merugikan. Spanyol terpisah dari negara Eropa lainnya karena Pegunungan Pirenea sehingga tidak semaju Eropa lainnya. Geografi ini tidak gampang berubah sehingga menjadi modal sangat besar bagi sebuah negara.

Kedua, Sumber Daya Alam. Faktor kedua ini penting karena seperti dialami Indonesia, sebenarnya kekayaan alam sangatlah melimpah. Ekspor migas telah memberikan kemakmuran kepada Indonesia namun ada faktor lain yang lemah sehingga sumber daya alam ini seperti penambangan tembaga oleh Freeport di Irian Jaya tidak bisa menghasilkan kemakmuran seperti yang diberikan migas. Contoh lain, mengapa Indonesia yang subur harus mengalami kelaparan atau kesulitan beras ? Dimana kesalahannya ? Pertanyaan ini menarik karena beras dan minyak goreng yang jadi salah satu kebutuhan pokok naik harganya beberapa ratus persen sedangkan wilayah Indonesia subur untuk menghasilkan pangan yang cukup.

Ketiga, dalam dunia modern kemampuan industri juga ikut menentukan kekuatan sebuah negara apakah ia lemah atau kuat. Hampir seluruh negara di muka bumi mengejar industrialisasi untuk menjadikan negaranya makmur dan bisa bersaing dengan negara lain. Oleh karena itu sebuah negara kuat, saat ini, bila tergolong kedalam tujuh negara industri (G-7).

Menurut Morgenthau, faktor keempat menyangkut kesiagaan militer. Apalah artinya kekayaan sumber daya sangat besar, industri maju dan posisi juga strategis kalau tidak bisa dipertahankan. Dengan kata lain, militer merupakan unsur penting dalam sebuah negara agar bisa menjamin keamanan, kenyamanan dan stabilitas.

Faktor kelima penunjang kekuatan nasional adalah penduduk. Yang menyangkut faktor ini adalah terutama soal penyebarannya dan komposisinya. Jika jumlah penduduk terkonsentrasi di satu tempat, dikhawatirkan malah mengundang banyak masalah. Komposisi penduduk terlalu banyak generasi tua dibanding yang muda juga mengundang berbagai soal seperti tenaga kerja aktif yang sedikit untuk memikul beban seluruh penduduk.

Sebenarnya faktor keenam ini menyangkut soal penduduk tapi lebih kualitatif yakni menyangkut soal Karakter Nasional.Morgenthau memberikan sejumlah contoh tentang karakter nasional seperti kekuatan dan kegigihan dasar orang Rusia, inisiatif dan daya cipta pribadi orang Amerika, pemikiran sehat orang Inggris yang tidak dogmatis, disiplin dan ketelitian orang Jerman. Karakter nasional ini jelas menentukan daya kompetitif suatu negara dalam percaturan internasional.

Ketujuh, Moral Nasional. Istilah ini merujuk kepada sesuatu yang lebih abstrak tapi juga merupakah pilar penting dalam menopang kekuatan sebuah bangsa. Moral nasional itu memancar ke berbagai sektor mulai dari sektor pertanian, industri sampai dengan militer dalam memberikan arti bagi negaranya. Semangat pengabdian, misalnya, adalah salah satu ciri faktor ketujuh ini.

Kedelapan, Kualitas Diplomasi. Dalam konteks luas, sebuah negara yang hidup dalam lingkungan internasional perlu memiliki diplomat-diplomat unggul dalam mencari peluang-peluang lebih besar serta mengantisipasi bahaya yang akan datang. Barangkali, perubahan kapitalisme global dimana kelompok spekulator di pasar uang telah sangat kuat seharusnya menjadi sorotan diplomat ini sehingga antisipasi bahaya yang tak kelihatan ini bisa lebih dini dilacak.

Kesembilan, Kualitas Pemerintah tentu sangat penting dan relevan bagi Indonesia untuk keluar dari krisis sekarang. Setelah 32 tahun masa Orde Baru, terlihat banyak kelemahan yang perlu dibenahi mulai dari ekonomi, sosial, politik sampai militer. Tentunya kualitas pemerintah dimana terjadi suksesi yang damai dan stabil serta kebijakan yang mencerminkan aspirasi rakyat menjadi sebuah kemestian bagi kuatnya sebuah bangsa.

III. VISI BARU

Dari sembilan karakter yang menunjang kuat dan lemahnya sebuah negara tampaknya bagi Indonesia perlu sebuah perbincangan lebih luas tentang penyelesaian krisis secara komprehensif, konseptual dan terarah sehingga melahirnya sebuah negara yang lebih kuat dari sebelumnya. Krisis sekarang seharusnya bisa melahirkan sebuah kekuatan bukannya kelemahan.

Dari rentang sejarah tentang tumbuh, berkembang dan lenyapnya sebuah bangsa, sembilan faktor itu terakait satu sama lain. Visi baru tentang Indonesia diletakkan dalam kerangka sembilan pilar kekuatan bangsa itu.

Pertama, kelemahan terbesar yang dialami Indonesia adalah kualitas manusianya. Kesadaran manusia tentang tanggung jawab masa depan negara ini serta sikap yang tegas terhadap setiap penyimpangan tidak begitu menonjol. Meskipun terdengar klasik, memang harus ada kesadaran luas dalam masyarakat untuk meningkatkan kualitasnya

baik dari segi intelektual maupun moralnya. Dalam konteks sekarang, pemberantasan korupsi misalnya merupakan tantangan bangsa ini untuk keluar dari krisis. Visi baru yang dicoba ditawarkan adalah menguatkan unsur-unsur dalam kualitas manusia Indonesia yang secara bersamaan bisa mengurangi sifat-sifat negatifnya.

Kedua, dampak globalisasi sudah terasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Terbukti dengan mahalnya barang kebutuhan pokok dan menyebarnya pengangguran karena bangkrutnya banyak usaha. Setiap bangsa yang berhasil harus memperhitungkan aspek internasional dalam kehidupannya. Kini manusia hidup dalam desa global. Akibatnya, cara berpikir global semestinya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia terutama di kalangan para pemimpinnya. Mengabaikan, pendapat umum masayarakat lain dan menganggap diri berbeda dengan negara lain sehingga kukuh tidak mau berubah menuju perbaikan adalah awal dari kehancuran. Berpikir global dan bertindak lokal pernah menjadi suatu slogan untuk membenarkan bahwa saat ini manusia hidup dalam era globalisasi.

Ketiga, dalam era transisi seperti sekarang mau tidak mau diperlukan sebuah kepemimpinan yang bersih, berwibawa dan komitmen terhadap kerakyatan. Pemimpin dalam arti luas seperti dalam perjalanan bangsa-bangsa lain tidak hanya memiliki jabatan resmi. Akan tetapi, lebih luas lagi adalah mereka yang komitmen dengan perubahan yang berkesinambungan menuju kesempurnaan. Dengan kata lain, pemimpin lebih berorientasi ke depan dalam mengarahkan masyarakatnya dengan tanpa melupakan pijakan masa lalu dan tidak hidup di masa silam.

Mengapa Jepang bisa melahirkan begitu banyak pemimpin baik di dunia bisnis, pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Demikian juga Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. Mengapa Indonesia sulit melahirkan pemimpin berkualitas kelas dunia di berbagai sektor ? Pertanyaan ini semestinya melahirkan sebuah visi bahwa kepemimpinan memang harus lahir dari sebuah lingkungan yang kondusif. Jangan sampai terjadi, pemimpin yang jujur, komitmen dan baik malah tidak terpakai karena lingkungan negara tidak menghendakinya. Sekarang kita bisa merasakan betapa mahalnya kualitas kepemimpinan itu. Ketika bisnis banyak utang ke luar demikian pula negara maka Indonesia jatuh terpuruk.

 
Leave a comment

Posted by on 9 June 2010 in FE UNRAM 09

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: