RSS

Buat Tugas Ekonomi Moneter

09 Jun

EGRANG MENJERUMUSKAN

Tahun 1965 adalah tonggak sejarah terpenting setelah 1945 bagi bangsa Indonesia, begitu tesis riset ekonomi politik para hali termasuk Prof.Jeffrey Winters.  Sebelum 1965, Indonesia membuat dunia Barat gelisah karena figur semacam Soekarno tak mau nurut tergantung finansial. Setelah 1965 Indonesia justru banting setir drastis membuka diri pada dunia Barat dan pengaruh globalisasi. Tentu saja ini penuh peluang dan risiko sekaligus.

Tahun 1965 akan diingat sebagai akhir Indonesia berperan sebagai pelopor dan pemimpin dunia berkembang yang membuka alur alternatif atas pilihan simplistis antara Barat dan Timur, antara Amerika dan Rusia. Itu juga akhir kompetisi dahsyat antar berbagai macam kelompok masyarakat pembentuk negara Indonesia. Yang menang ialah nasionalis-versi-TNI dan kelompok internasionalis-versi-WijoyoNitisastro dan teknokratnya, ini grup yang sangat kanan dan anti-demokratis. Yang kalah ialah kelompok nasionalis-versi-Soekarno, kelompok Islam versi NU-Muhamadiyah-Masyumi, dan juga kelompok PKI.

Perubahan yang terjadi itu, ujar Prof.Jeffrey, amat luar biasa. Sebelum 1965 hubungan Indonesia-dunia amat pelik, padahal dunia Barat ingin negara-negara bekas jajahan masuk dalam payung mereka. Sesudah 1965, negara-negara Barat mengandalkan figur semacam Soeharto. Dan bagi AS hal itu sangat menyenangkan karena tak perlu menang dengan meneteskan darahnya sebagaimana dialami berantakan di Vietnam.

Tahun 1960-an awal, Indonesia adalah tempat menakutkan bagi investor. Era itu ditandai tidak adanya kebijakan ekonomi rinci sama sekali. Inflasi 1965 amat tinggi, suku cadang dan mesin tiada, tiada lapangan kerja, dan dalam situasi krisis (sebagaimana dilakukan pemimpin lain juga) itu yang dilakukan mencetak lebih banyak uang, dan inflasi pun ibarat spiral terus meluncur ke bawah. Bila tahun 1957 dijadikan indeks biaya hidup = 100, maka tahun 1960 menjadi 348, tahun 1965 menjadi 36 000, dan Juli 1966 menjadi 150 000. Mengerikan dan dapat meledak sewaktu-waktu. Maka Soeharto masuk.

Apa yang dilakukan presiden baru itu ? Pertama, cuci tangan dari darah korban 1965. Lalu dua langkah. Pertama, gaet segala uang bebas/tak terikat untuk galang kuasa. Kedua, undang modal swasta untuk menggerakkan ekonomi. Tetapi kedua sasaran itu saling berbenturan. Yang satu hitam, yang lain putih.

Dibangunlah patron-klien, dia bertindak selaku mafia-don, cari uang melalui KORUPSI.  Tetapi beri peluang bisnis pada kroni dan galakkan korupsi, pastilah ditolak oleh investor non-kroni. Bagaimana lantas ?

Itulah diciptakan sistem DUAL TRACK alias EGRANG. Dijalankan serentak keduanya, dikelola pula benturan-benturan antar keduanya. Jalur KORUPSI-ILEGAL dipilihlah IBNU SUTOWO, jalur investasi bisnis resmi dia pakai WIJOYO cs atau yang populer dijuluki Mafia Berkeley itu. Mereka tahu bahwa bos ini don Godfather korup yang tengah membangun Mafia, tetapi mereka punya ikatan kuat dengan Amerika dan berharap saluran merekalah yang akan dominan. Nah, EGRANG pun tersusun. Apa lacur? Wijoyo cs kalah dalam persilatan, dan para teknokrat itu beralihrupa pula menjadi orang kaya dan KORUP, sebagaimana kroni lainnya. Pada krismon 1997, atas mafia don Yang-kung, setelah berkuasa beberapa dasawarsa, ekonomi busuk basi pun merontokkannya.

Buku Modal Berpindah, Modal Berkuasa.  Ada aneka kekuasaan di tiap negara dan masyarakat, namun kekuasaan itu tidak tertebar merata.  Di negara demokratispun, satu orang satu suara dalam pemilu, tetap saja ada segelintir yang dapat bersuara dengan cara lain, karena punya basis kekuasaan eksklusif lain yang tak dimiliki yang lain. Mereka dapat menyetir pemerintah. Itulah investor. Jika mereka menginvestasi, terbukalah lapangan kerja. Bila mereka emoh itu, ekonomipun menukik tajam. Mobilitas modal adalah segi penting investor, dan itu isi buku tadi, bagaimana dan bilamana menyetir Yang-kung, juga kapan dan mengapa ada kalanya pengaruh melemah.

Krisis ekonomi berpeluang krisis politik, maka pentinglah bersikap tanggap kepada investor, karena mereka punya modal. Tetapi  Indonesia memikat, karena pemimpinnya juga menyukai kapital yang tak terkontrol oleh investor!

Di awal orba, tepatnya akhir 1973, Soeharto tak punya banyak opsi. Pemerintah tak punya banyak uang, BUMN bangkrut, maka dia harus dengarkan apa permintaan investor. Maka Wijoyo dkk sangat berpengaruh saat itu. Namun dari 1974 sampai 1982, harga minyak membubung. Melalui PERTAMINA, Soeharto punya akses yahud akan modal. Dari kacamata teknokrat, kenaikan harga minyak saat itu adalah musibah, presiden menjadi cuek pada investor.

Malah diizinkannya Ginanjar dan Sudharmono mencipta tim Keppres 10. Tim ini resmi upaya untuk membangun kekuatan investor domestik (tahun 70-an namanya pribumi) agar bersaing dengan investor asing dan keturunan Cina (Tionghoa). Sekilas seperti Mahathir Malaysia, tetapi kenyataannya lain : dalam praktek tim ini adalah piranti bagi-bagi kue lezat gratisan laiknya, bagi dia dan kroninya. Lewat piranti migas, uang yang meluncur ke pundi-pundinya dkk nyaris tak terbatas, maka buat apa menggubris investor non-kroni ? Itu sebabnya Abu Rizal bakri dkk harus merasa berhutang budi berat pada Ginanjar.

Pada 1982 harga minyak memble, jumlah uang rezeki nomplok pun mengkerut. Mendadak sontak presiden RI harus ramah lagi pada investor non-kroni. Saat itulah era deregulasi digulirkan dan para teknokrat bertempik sorak sorailah. Mereka gemes benci tatkala Soeharto hanya mendengarkan Ibnu dan Dharmono. Ini bukan bicara soal apakah Tim 10 lebih baik daripada teknokrat atau sebaliknya. Akan tetapi bahwa TIM 10 digunakan sebagai sarana canggih dan piranti piawai untuk KORUPSI, untuk memberi makan para kroni. Dari responsif, tak-responsif, dan kembali responsif pada investor non-kroni, ini ukurannya adalah naik-turunnya kekuatan investor.  Faktor lain : ada tidaknya dana alternatif bagi rezim itu.

Di zaman itu, sebenarnya ada peluang besar untuk membangun sistem hukum yang kuat, sebagaimana di negara-negara berkembang lain yang gesit dan cepat maju. Tetapi bukan itu yang dipilih. Justru dilakukan hal-hal yang berakibat penghancuran infrastruktur hukum di Indonesia. Korupsi disitu lebih-lebih merajalela, dikembang-suburkan.  Warisan orba bukan sistem dan lembaga pemerintahan kuat dan profesional, namun justru hukum, birokrasi, pendidikan bahkan militer diKORUPSI tandas. Bukan sistem berdasar hukum dan prosedur, tanpa pandang bulu dan tak mudah dibeli dan diintimidasi, melainkan justru yang mengabdi kepentingan individunya selaku don mafia. Pengacara, jaksa dan hakim tahun 50-an sangat piawai, sedangkan mereka di zaman orba dilibas dan diganti cecunguk korup. Don mafia menjadi penguasa tunggal.

Selama don berkuasa, yang dilaporkan pertumbuhan rata-rata 7% selama tiga dasawarsa. Tetapi tatkala don Godfather lengser, seluruh sistem tidak berfungsi. Institusi lemah, sehingga setelah don jatuhpun mereka tak mampu mengatur para oligark yang tertinggal. Itu sebabnya, dengan julukan bapak pembangunan, don mafia berhasil membikin negara ini nyaris sengkleh dalam arti absolut. Kompetitor regional seperti China, India, Thailand, bahkan Vietnam, maju melaju kencang, Indonesia masih jongkok ndeprok lupa berdiri. Itulah berkat sungai darah dan mayat hidup yang telah dihisap tuntas oleh don pula.

UNTHUL-UNTHULNYA BERNAMA PERTAMINA

Godfather mengkhianati Republik demokratis berPANCASILA dengan berbagai kiat dan topeng. PERTAMINA adalah BUMN utama tempatnya merangsek dan menyedot dana. Dia akses sumber-sumber aset dana bebas yang dapat dicolong dan diputar dalam jaringan model patron-klien yang dirajutnya.  Yang-kung menyadapi aliran-aliran dari sumber yang tipis kontrolnya sekitar tahun 1968. Orang paling tepat ialah IBNU SUTOWO yang nongkrong-nangkring di PERTAMINA. Disitu dipiara aneka tikus, rayap dan unthul-unthul berbagai jenis dengan belitan sindikatnya, sejak awal orba.

IBNU SUTOWO dipasang, yang lain-lain yang mengganggu dieliminasi. Jelas, Ibnu Sutowo tak menerima cipratan dari IGGI, WB, IMF, ADB dan sejenisnya. Artinya BIROKRASI adalah jalur lambat, sedangkan PERTAMINA adalah jalur cepat sekaligus non-institusional. Yang semula di awal orba PERTAMINA hanya menjadi aset jaminan utang, kemudian PERTAMINA menjadi sumber dana itu sendiri. Investasi oleh dan melalui PERTAMINA tidak tunduk kepada hukum. Kontrak-kontrak mereka diatas hukum laiknya.

Dinamikanya sangat membuat tertegun-prihatin, mengerikan bila ditulis rinci disini (baca buku sumbernya)

Maka sungguh sengajalah diciptakan benturan dan persilatan, tarik-menarik dan desak-mendesak, antara sistem LEGAL dan sistem PERTAMINA. Terlalu banyak korban dapat digambarkan akibat binal dan liarnya PERTAMINA bagi ekonomi Indonesia serta kesejahteraan rakyatnya. Yang gendut hanya para bos PERTAMINA dan sekalian cecunguknya, dan sudah pasti don, bosnya.  Sistem EGRANG alias dua jalur inilah yang membuat investor sejati enggan masuk ke Indonesia. IBNU SUTOWO dan kroni-kroni piaraannya membuat kepercayaan investor pada Indonesia terkikis, mengenai kepastian hukum, komitmen pada pasar bebas, dan pengaturan ekonomi secara teregulasi namun transparan. IBNU SUTOWO melalui utang komersial maha raksasa sungguh menguras devisa, kemampuan tukar mata uang oleh negara juga digerogoti, dan investor yang dengan mudah memindah kapital menjadi tidak tergiur oleh Indonesia yang sejatinya kaya raya namun tidak becus.

Baru akhirnya pada penghujung kekuasaan, presiden RI itu dapat mulai disadarkan bahwa berbagai tindakan IBNU SUTOWO dapat sangat berbahaya bagi negara. Sayang, sudah terlambat. KORUPSI sudah terlanjur menjadi kanker ganas, menyebar dan tak hanya menimpa PERTAMINA. Yang terhasil, kehancuran merata, berpangkal dari double gardan ala PERTAMINA.

Zaman Don Mafia membuktikan bahwa negara miskin dapat mengalami pertumbuhan tinggi walau tanpa membangun negara dan masyarakat secara keseluruhan. Pembangunan ala orba adalah pembangunan bodong dan temporer, karena biaya-biayanya ditimpakan pada generasi berikut. Prestasi Yang-kung satu, yakni sangat efektif menjinakkan para oligark-kroninya agar sedikit berkurang potensi perusakannya pada bangsa dan negara. Jadi yang terpenting bagi setiap negara yang membangun adalah :  mengendalikan SEGELINTIR ORANG DIATAS yang mampu menghancurkan ekonomi dan politik bagi seluruh rakyat yang dibawah.

Kekeliruan Yang-kung ialah bahwa dia menjinakkan oligarki secara pribadi, bukan institusional. Selama orba, kroni Soeharto tidak pernah takut pada HUKUM dan HAKIM, apalagi jaksa dan polisi. Seandainya Don bekerja keras mendirikan sistem HUKUM yang sangat kuat dan independen/Merdeka (bukan tergantung individunya), sehingga para oligark tunduk patuh pada sistem hukum yang tak dapat dibeli dan tak pandang bulu, maka para OLIGARK saat dia lengser akan tetap jinak, bukan berubah menjadi mahluk brutal, ganas, freelancing, macam kanker laiknya.

Lantas ? Mencari GODFATHER baru ? Jangan, karena itu hanya akan menunda lagi PENEGAKAN HUKUM yang telah terbengkelai sejak 1966. Rakyat kini memilih langsung, maka jangan memilih hanya berdasar citra, tampilan luar, santun dan topeng kesolehan. Figur PEMIMPIN sejati ialah yang BERSAMA RAKYAT, terjun membangun sistem hukum kuat yang mampu menjinakkan para penjahat ganas. Jangan sampai tertipu oleh slogan, reklame, SMS sampai statistik survei dadakan bikinan badut-badut politik dan informatika lancung, yang bermentalitas dan berhampiran orba. Makin ditunda prosesnya, makin sukar bagi rakyat untuk selamat. Dan rakyat Indonesia terlalu miskin tanpa daya, terlalu tertinggal bila harus menunggu lagi. Globalisasi pun terus bergerak, iptek makin maju, kompetisi kian berat, tidak menunggu siapapun!

Yang tak suka TRANSPARANSI, yang tak mau hitam-putih (moral) untuk menohok dan basmi KORUPSI, yang bermental spekulasi-manipulatif (dalam keuangan/moneter dan bidang lain), yang menolak akses MASYARAKAT akan birokrasi, yang berpola MONOPOLISTIS ala PERTAMINA  semua itu adalah jelmaan mental orba yang sangat amat BERBAHAYA bagi Indonesia.

Cara-cara DOBEL GARDAN, EGRANG, dual-track, main korupsi seraya berlagak soleh, sistem aliran uang GELAP dan TERANG, sistem pengucuran dana ilegal sumber dan aset moneter, semua itu adalah jelas dan gamblang mental orba, pengkhianat cita-cita negara Republik Indonesia, dilaknat para pahlawan, dan sungguh sebrat dari pandangan hidup bangsa PANCASILA. Hitam adalah hitam, putih itu putih, bukankah YIN-YANG pun tak kenal abu-abu moral ?  Hendaknya tambah bijak, kaji sejarah. ***

 
Leave a comment

Posted by on 9 June 2010 in FE UNRAM 09

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: