RSS

Benarkah Bank Dunia semakin Menyayangi Pertanian?

29 May

Beberapa teman pakar pertanian di Bogor, berulang kali mengungkapkan kekaguman atas World Development Report 2008: Agriculture for Development yang dibuat oleh Bank Dunia (BD). Setidak-tidaknya ada 2 hal mengapa mereka kagum. Pertama, banyaknya literatur yang disitir (lebih dari 1000 buah), sehinga pendapat BD dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, khususnya tentang cetak biru pembangunan pertanian di negara berkembang (NB). Kedua, BD mendukung kembali pembangungan pertanian, yang sejak 1980an telah mengabaikannya. Pinjaman (loan) untuk NB yang dikaitkan dengan Structural Adjustment Program, sehingga NB harus patuh dan melaksanakan petuah mereka.

Kekaguman itu tentu tidaklah salah. Namun, kita perlu menyimak secara mendalam bagaimana “sayang” dan “benci” BD terhadap sektor pertanian. Pada 1970an pada era pimpinan McNamara, BD kuat mendukung program pembangunan untuk kepentingan petani, yaitu melalui pembangun lembaga publik penyuluhan, lembaga kredit dan parastatal. Pada 1960an era BD dipimpinan oleh G.Woods, BD memberi perhatian besar terhadap penelitian pertanian. Bahu membahu dengan Yayasan Ford dan Rockeffeler, BD berperan dalam mengembangkan teknologi “revolusi hijau”.

Benci BD terhadap pertanian muncul sejak 1980an. BD bersama dengan sejumlah lembaga donor Barat lainnya memaksa semua NB yang berhutang pada mereka, agar meliberalisasi perdagangan dan pasar, meliberalisasai pasar keuangan, menswastakan parastatal. Kebijakan yang seragam itu ternyata banyak mengalami kegagalan di NB, seperti di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Kegagalan juga terjadi di Indonesia. Sektor pertanian dipinggirkan, berbagai dukungan terhadap sektor ini dipangkas, investasi di sektor pertanian merosot tajam. Lembaga penyuluhan kita yang begitu kuat pada 1970an dan awal 1980an, ambruk seketika, dan peran parastal BULOG dipangkas, semuanya diserahkan ke mekanisme pasar. Harga pangan dibuat murah, agar inflasi dan upah buruh menjadi rendah guna mendukung sektor industri yang sebagian diantaranya adalah footloose industry. Kebijakan impor pangan murah menjadi strategi utama dalam memperkuat ketahanan pangan. Bersama dengan liberalisasi perdagangan (tarif rendah dan tanpa hambatan non-tariff), maka terjadilah serbuan impor pangan, sehingga telah berdampak buruk terhadap petani produsen. Substitusi pangan lokal dengan pangan yang berasal dari tepung terigu terus membesar, karena harga terigu dibuat rendah, sehingga industri tepung yang berasal dari ubi-ubian hasil produksi petani dalam negeri sulit bersaing. Indonesia menjadi negara importir gandum/terigu terbesar ke-6 di dunia. Nilai impor gandum/terigu adalah salah satu diantara 10 besar produk impor Indonesia, satu-satunya pangan, 9 lainnya adalah barang modal.

Terus apa yang baru dari World Development Report 2008? Tidak berubah, masih tetap privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi pasar, tetap dukung TNCs, dorong berkembangnya konglomerat agribisnis dalam negeri. Pasar komoditas/produk pertanian semakin terkonsentrasi, mengarah ke struktur pasar oligopsoni/oligopoli. Pemerintah dan politisi tampaknya kurang peduli dengan semua itu.

 
Leave a comment

Posted by on 29 May 2010 in Artikel, Artikel Ekonomi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: